Graffiti Collection
Best Graffiti
New Graffiti

Monday, February 1, 2010

Graffiti Cartoons – Magic Ticket

GRAFFITI GRAPHIC DESIGN
GRAFFITI CARTOONS - MAGIC TICKET

graffiti cartoons
Graffiti Cartoons – Magic Ticket

Please give your comments about this graffiti image, Thanks....

PELUKIS LEE MAN FONG

Lukisan Karya Pelukis Legendaris Lee Man fong



"ROOSTER HEN" karya Lee Man Fong diambil dari http://i385.photobucket.com/albums/oo297/Bayuco/RoosterHen.jpg







LEE MAN FONG

Seorang pelukis berasal dari cina yang dilahirkan di Cina, Ghuangzhaou, caton pada tahun 1913. ayahnya yang seorang pedagang meninggal pada tahun 1930 saat mereka di Singapore. Setelah ayahnya meninggal Lee Man Fong harus menghidupi adik-adiknya dan ibunya. Dengan kemampuan melukisnya dia menghidupi keluarganya, tapi pekerjaan itu dirasa kurang cukup, Kehidupan yang terasa berat dan kurang membuat Lee man Fong hijrah ke Jakarta pada tahun 1932, dan mencoba pruntungannya di Indonesia. Lee Man Fong pun bekerja sebagai pelukis komersil dan juga bekerja di agen periklanan.

Pada tahun 1936 pemimpin asosiasi Hindia Belanda Timur mengundang Lee Man Fong, yang dikenal sebagai pelukis otodidak, untuk berpartisipasi dalam pameran lukisan yang akan diadakan di belanda, sebelumnya pameran ini diadakan hanya untuk para pelukis yang berkebangsaan belanda. Tentu saja undangan ini dianggap sangat luar biasa, dan hal itu membuat marah komunitas seniman belanda, karena diluar kebiasaan komunitas seniman setempat.

Setelah tahun 1940an, Lee Man Fong mencurah kan segenap waktunya untuk melukis, dia datang ke Bali tempatnya dia bekerja, dan mempersiapkan pameran tunggalnya di Jakarta dan Bandung. Pameran tunggalnya yang di Jakarta dilaksanakan pad mei 1941.

“saya suka Indonesia” kalimat itu yang sering terlontar dari mulut Lee Man Fong, maka ketika jepang datang ke Indonesia dan hendak menjajah Indonesia,secara gerilya Lee Man Fong turut serta melawan fasisme jepang hingga akhirnya dia harus terpenjara selama 6 bulan pada tahun 1942. untunglah dia ditolong oleh Takahashi Masao seorang opsir yang juga seniman ikebana (rangkaian bunga). mereka berkenalan hingga Takashi Masao tahu kalau Lee Man Fong adalah seorang seniman dan dia tertarik dengan potensi yang dimilikinya maka Lee Man Fong pun dibebaskan.

Pada tahun 1949, Lee Man Fong di beri beasiswa oleh pemerinta Belanda untuk belajar melukis di Holland selama 3 tahun. Selama itu juga dia sempat mengadakan beberapa pameran tunggal. Dari pameran-pameran ini Lee Man Fong mendapatkan kesuksesan.

Tahun 1952 presiden Soekarno sebagai pecinta seni lukis datang ketempat Lee Man Fong di Jalan Gedong, semangat Lee Man Fong semakin terpacu. Dan pada tahun 1955 dia mendiri kan sebuah perkumpulan yin hua, sebagai organisasi pelukis tionghoa, yang berada di Lokasari, Jakarta Kota, sering mengadakan pameran. Presiden Soekarno pun sering menghadiri pameran tersebut, bahkan saat lukisan yin hua berada di Tiongkok , Lee Man Fong bertindak sebagai ketua delegasi. Dan itu sangat membuat presiden Soekarno salut juga bangga.

Lukisan Lee Man Fong sangat disukai presiden Soekarno karena lukisan Lee Man Fong dipandang seperti ventilasi ditengah sibuknya revolusi. Maka pada tahun 1961 Lee Man Fong diangkat resmi menjadi pelukis istana dan warga Indonesia dan semenjak itu dia bekerja untuk Presiden Soekarno untuk waktu lama.

Tapi setelah diangkat menjadi pegawai resmi istana, dan bertugas mengurus koleksi sang presiden, Lee Man Fong merasa ada yang kurang, karena Lee Man Fong bukanlah seorang pekerja kantoran yg terbiasa dengan jam kerja, lingkungan yang protokoler, dan harus selalu patuh terhadap Presiden. Semua itu tak mudah bagi Lee Man Fong. Akhirnya Lee Man Fong mengajak sahabatnya Lim Wasim yang seorang pelukis juga sebagai asisten Lee Man Fong dan Presiden Soekarno pun menyetujuinya.

Pada masa Presiden Soekarno harus turun, dan keadaan politik di Indonesia sangat kacau, Lee Man Fong pun akhirnya terpaksa harus “lari” ke Singapore, sempat lama tinggal di Singapore dan dianggap tokoh besar Singapore dan pelukis Singapore.

Pada tahun 1985, Lee Man Fong kembali ke Indonesia dan pada tahun 1988 dia meninggal di Puncak, Jawa Barat, karena sakit liver dan paru-paru yang di deritanya.(Artikel diambil dari http://wikipedia.com)

3D Banksy Graffiti On The Wall: Graffiti Street Art


3D Banksy Graffiti On The Wall: Graffiti Street Art. Cool graffiti design

Banksy Graffiti Art: 3D Painting Art On The Walls


Banksy Graffiti Art: 3D Painting Art On The Walls. Graffiti that has meaning behind an image

Banksy Graffiti: Writing Graffiti Peace

Banksy Graffiti
Banksy Graffiti: Writing Graffiti Peace. Art of painting with a brush on the wall that contains the meaning of peace

Design Graffiti Alphabet Letters "Full Color"

Graffiti Alphabet Letters
Design Graffiti Alphabet Letters A-Z "Full Color"

Example graffiti alphabet letters A-Z cool. An alphabet is a set of standard letters - basic symbols that are written - each of which approximately represents a phoneme, a spoken language, both as it exists now or as in the past. There are other systems, such as logographies, in which each character represents a word, morpheme, or semantic unit, and syllabaries, in which each character represents a syllable. Alphabet are classified based on how they indicate vowels:
  • The same way as consonants, as in Greek (true alphabet)
  • Abbreviation of consonants, as in Hindi (abugida)
  • Not at all, like in Phoenix (Alphabetical)
The word "alphabet" came to England, from the medieval Latin word Alphabetum end, which in turn comes from the Ancient Greek Αλφάβητος Alphabetos, from alpha and beta, the first two letters of the Greek alphabet. Alpha and beta in turn came from the first two letters of the Phoenician alphabet, and means that cows and their homes. There are dozens of alphabets in use today. Most of them are composed of lines (linear writing); exceptions are Braille, fingerspelling, and Morse code.