
Graffiti street art with the words Hard Rock Burn
|
|
|
|
|---|


Subali versi Solo, gambar diambil dari http://www.wayang.wordpress.comCUPU MANIK ASTAGINA
Cupu merupakan suatu wadah berbentuk bundar, kecil biasanya terbuat dari kayu atau logam. Manik adalah batu permata. Dalam kisah Ramayana terdapat sebuah cupu manik yang cukup terkenal yaitu cupu manik astagina milik Dewi Indradi (dalam beberapa buku ditulis Dewi Windradi).
Sahdan Resi Gotama, seorang petapa sakti mandraguna ikut memadamkan kekacauan yang terjadi di khayangan tempat para dewa bersemayam karena adanya pemberontakan. Atas jasanya tersebut Resi Gotama diberi hadiah seorang bidadari untuk diperistri yaitu Dewi Indradi. Sebenarnya Dewi Indradi sudah punya kekasih dari kalangan dewa, yaitu Dewa Surya. Akan tetapi karena tetua para dewa sudah memutuskan Dewi Indradi menjadi istri Resi Gotama maka Dewa Surya menerima kenyataan. Sebelum Dewi Indradi dibawa kepertapaan Grastina di lereng Gunung Sukendra, Dewa Surya memberi hadiah cupu manik astagina sebagai kenang-kenangan kepada sang kekasih. Jika cupu itu dibuka maka dari maniknya akan terlihat gambaran semua isi dunia.
Resi Gotama adalah seorang petapa yang sangat tekun dalam melakukan tapa brata, sehingga istrinya sering kesepian ditinggal pergi bertapa. Di saat sendiri itulah Dewi Indradi melihat keindahan dunia lewat cupu manik astagina. Perkawinan mereka dikaruniai tiga anak yaitu Anjani, Subali dan Sugriwa. Sampai saat itu sang suami belum tahu keberadaan cupu manik.
Suatu ketika Anjani putri pertamanya memergoki sang ibu sedang memandang cupumaniknya. Dewi Indradi kaget keberadaannya ketahuan. Padahal ia sudah di pesan oleh Dewa Surya agar hati-hati dalam menggunakan cupu manik astagina tersebut. Jangan sembarangan membukanya apalagi sampai ketahuan orang lain walaupun itu suami atau anaknya sendiri. Saat itu Dewi Indradi benar-benar kesepian, sudah berminggu-minggu Resi Gotama menyepi di hutan memperdalam ilmunya yang sebenarnya sudah sangat tinggi. Sedangkan anak-anaknya mempunyai kegiatan sendiri-sendiri. Subali dan Sugriwa mewarisi bakat kepintaran ayahandanya dalam mempelajari ilmu-ilmu kesaktian, sedang memperdalam ilmunya dibawah bimbingan asisten-asisten Resi Gotama. Subali di bawah asuhan Jembawan, Sugriwo oleh Menda. Demikian juga Anjani selain mewarisi kecantikan kebidadarian ibundanya juga sangat cerdas dalam mempelajari ilmu-ilmu ayahandanya di bawah asuhan Endang Suwarsih.
Saat itu Anjani seharusnya belajar tapi ia sangat bosan kemudian pulang ke rumah. Di rumah Dewi Indradi juga sedang kesepian, maka diambilnya cupu manik astagina. Dibukanya cupu itu, dilihatnya isi dunia lewat gambaran yang terpancar dari manik yang bercahaya itu. Ia telusuri keadaan dunia satu sisi ke sisi lainnya. Keindahan gambaran dunia itu membuatnya lupa akan waktu dan keadaan sekitarnya. Sampai kehadiran Anjani tidak disadarinya. Tanpa sadar Anjani juga melihat kesaktian cupu manik milik ibunya dengan sangat takjub, heran dan kaget. Dewi Indradi juga kaget kegiatannya diketahui anaknya, padahal ia sudah dipesan Dewa Surya kekasihnya dimasa lalu agar tidak ada orang yang mengetahui keberadaan cupu tersebut.
Karena takjub Anjani ingin sekali memiliki cupu tersebut. Dewi Indradi karena kaget sudah ketahuan rahasianya mencari jalan keluarnya. Akhirnya dibuat kesepakatan cupu manik astagina diberikan kepada Anjani tetapi dengan perjanjian tidak boleh diketahui oleh orang lain. Anjani setuju, kemudian cupumanik astagina berpindah tangan. Hari berganti minggu Anjani masih bisa menjaga rahasianya. Minggu berganti bulan Anjani semakin ketagihan melihat gambaran keindahan dunia, maka sering-sering ia membukanya. Beberapa bulan kemudian Anjani sudah ketagihan untuk selalu membuka cupu dan melihat-lihat gambaran isi dunia dalam maniknya. Pelajaran dari Endang Suwarsih mulai dilalaikan.
Suatu saat Subali dan Sugriwo memergoki Anjani sedang membuka cupu maniknya. Betapa takjubnya mereka dengan keanehan benda tersebut, gambaran isi dunia bisa dilihatnya. Subali dan Sugriwo juga ingin memilikinya, menghadaplah ia kepada ayahandanya meminta cupu manik astagina juga. Resi Gotama memang sangat sakti, ilmunya sudah tinggi tapi belum bisa memciptakan benda yang bisa melihat isi dunia seperti itu. Ini pasti benda dari kayangan. Dipangilnya Dewi Indradi sebagai pihak yang pertama memilikinya. Betapa bingungnya hati Dewi Indradi ketika harus menjawab pertanyaan Resi Gotama darimana asal cupu manik astagina. Ia ingat pesan Dewa Surya. Rahasia itu bisa terungkap. Dewi Indradi tak kuasa menjawab, diam seribu basa. Resi Gotama semakin tak sabar menunggu jawaban istrinya. Dewi Indradi tetap rapat menutup mulutnya. “Istriku, kenapa kau diam seperti patung?” kata Resi Gotama. Kemudian Dewi Indradi menjadi patung.
Kemarahan Resi Gotama belum reda, maka dibuangnya cupu manik itu. Cupunya jatuh di sendang Nirmolo, sedangkan maniknya jatuh di sendang Sumolo. Karena ingin memilikinya ketiga anak Resi Gotama mengejar cupu manik itu. Subali dan Sugriwo yang melihat jatuhnya cupu ke sendang Nirmolo langsung menyelam mencarinya. Tidak ketemu. Saat keluar dari air wujud tampan keduanya berubah. Seluruh badannya keluar bulu, wajahnya berubah menjadi kera dan sebuah ekor menyembul. Betapa kaget keduanya atas apa yang menimpanya, merka pulang ke rumah menemui ayahandanya untuk di pulihkan. Penderitaan mereka berdua cukup panjang sampai nanti bertemu Sri Rama dan bertempur melawan Rakwana.
Anjani melihat manik yang dilempar ayahandanya jatuh di sendang Sumolo. Ia tidak berani menyelam untuk mengambil. Dari pingir kolam diulurkan tangannya untuk meraih manik tersebut. Masih kurang beberapa jengkal lagi, maka semakin dalam tangan diulurkan sampai wajahnya menyentuh air telaga. Seperti adik-adiknya yang berubah menjadi kera, tangan Anjani juga ditumbuhi bulu, serta wajahnya berubah menjadi kera. Penderitaan Anjanijuga sangat lama. Ia diminta melakukan tapa nyantolo atau berendam seperti kodok di sendang itu selama bertahun-tahun. Suatu saat Dewa Surya melihat punggung Anjani teringat ia pada Dewi Indradi, melalui sebuah ujung daun asam dikirimnya makanan kepada Anjani. Beberapa saat kemudian Anjani hamil. Daun asam namanya sinom, ketika bayi Anjani lahir diberinama Anoman yang juga berujud kera berbulu putih. Kera ini berumur sangat panjang dari masa jamannya Sri Rama dan Sinta sampai jaman Baratayuda. Setelah melahirkan wujud Anjani kembali cantik jelita dan karena tapanya yang sangat taat ia diangkat menjadi Dewi dan tinggal di kayangan.
Kisah Ramayana di tulis oleh Walmilki ribuan tahun yang lalu. Diperkirakan sekitar 400 tahun Sebelum Masehi. Yang menarik bagi saya adalah seolah-olah Walmiki memprediksi ribuan tahun ke depan akan ada sebuah benda kecil seperti cupu manik astagina yang mampu melihat isi dunia, yaitu internet. Cupu manik astagina itu, saat ini bisa berupa sebuah handphone yang bisa digengam dan dibawa kemana-mana. Juga bisa dibuka kapan saja. Yang perlu kita waspadai adalah nasehat Walmiki agar kita tidak sembarangan waktu dan tempat ketika membuka isi dunia itu. Jangan sampai nasib Anjani, Subali dan Sugriwa menimpa kita. Berubah menjadi kera-njingan. Artikel ini diambil dari http://sosbud.kompasiana.com/2010/06/16/cupu-manik/
RESI GOTAMA DALAM PEWAYANGAN JAWA
RESI GOTAMA adalah seorang brahmana di pertapaan Dewasana (Grastina). Ia putra tunggal Resi Dewasana, putra sulung Bathara Dewanggana yang merupakan cucu buyut Bathara Surya. Resi Gotama bersaudara sepupu dengan Prabu Heriya, raja negara Maespati yang merupakan kakek Prabu Arjunasasrabahu , dan Resi Wisanggeni dari pertapaan Ardi Sekar yang merupakan kakek dari Bambang Sumantri dan Ramaparasu (Ramabargawa).
Resi Gotama sangat sakti dan termasyur dalam ilmi Kasidan. Resi Gotama menikah dengan Dewi Indradi/Windradi, seorang bidadari keturunan Bathara Asmara. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra masing-masing bernama; Dewi Anjani, Subali/Guwarsi dan Sugriwa/Guwarsa. Malapetaka telah terjadi atas keluarganya akibat Cupumanik Astagina, milik Dewi Indradi sebagai hadiah perkawinan dari Bathara Surya. Cupu yang diberikan kepada Dewi Anjani menjadi perebutan dengan Subali dan Sugriwa. Dewi Indradi yang bersikap membisu tentang asal-usul Cupu tersebut, dikutuk oleh Resi Gotama menjadi tugu batu dan dibuang ke angkasa jatuh di wilayah negara Alengka.
Untuk keadilan Resi Gotama membuang Cupumanik Astagina ke udara untuk diperebutkan ketiga putranya. Cupu jatuh di hutan pecah menjadi dua buah telaga bernama telaga Sumala dan telaga Nirmala. Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa yang terjun ke dalam telaga Sumala berubah wujud menjadi kera. Untuk menebus kesalahan dan agar bisa kembali menjadi manusia. Resi Gotama menganjurkan ketiga putranya untuk pergi bertapa. Dewi Anjani bertapa nyantika (seperti katak) di telaga Madirda, Subali melakukan tapa ngalong (seperti kelelawar) dan Sugriwa melakukan tapa seperti kijang di hutan Sunyapringga.
Resi Gotama meninggal dalam usia lanjut, menyusul kematian Dewi Anjani yang baru saja melahirkan Anoman. Artikel ini diambil dari http://maztrie.blogspot.com/2009/04/resi-gotama.html
Gambar Resi Gotama versi Solo, diambil dari http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://pitoyo.com/duniawayang/galery/data/media/3/gotama_solo.jpg&imgrefurl=http://pitoyo.com/duniawayang/galery/details.php%3Fimage_id%3D341&usg=__vrxEn4izTotfW-UqYInJOkdbBVo=&h=631&w=400&sz=70&hl=id&start=0&sig2=FYduDU7-s6pBMMPzooZK-w&zoom=1&tbnid=ca115hpA3EjDQM:&tbnh=134&tbnw=83&ei=tcd-TNv5C5OHcbjJmPIK&prev=/images%3Fq%3Dresi%2Bgotama%26um%3D1%26hl%3Did%26sa%3DN%26biw%3D1280%26bih%3D576%26tbs%3Disch:1&um=1&itbs=1&iact=hc&vpx=992&vpy=217&dur=1848&hovh=282&hovw=179&tx=88&ty=236&oei=tcd-TNv5C5OHcbjJmPIK&esq=1&page=1&ndsp=24&ved=1t:429,r:22,s:0
Gambar Wayang Resi Gotama, diambil dari https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJgo07wpdlC97auquOlll-yYA0D5M-4561DD5MyFgLPMwLZdO5O1Lrd6kLJVbCe4iiLPLzwI_hBRc47_Tt6y6FNvLT1UjYjGxIQ0aw9RNl_ru3z5EyW_Eh9rDOHZWHLTFVY3l5o6xI8bA/s1600-h/Gotama.jpg
Relief yang berjudul "Penebusan dosa Bhagiratha", terdapat di Mahabalipuram. Gambar diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bhagiratha
Lukisan "Turunnya Gangga" karya Raja Ravi Varma. Gambar ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/BhagirathaDalam mitologi Hindu, Bhagiratha (Sanskerta: ; Bhāgīratha) adalah nama seorang raja keturunan Ikswaku, putera Dilipa, yang memerintah Ayodhya sebelum masa pemerintahan dan kejayaan Dasarata, ayah Rama. Ia dikenal karena jasanya yang besar telah mengantarkan air Gangga ke muka bumi.
Sebelum Bhagiratha naik tahta, raja pendahulunya selalu wafat dalam kesedihan. Hal itu dikarenakan roh para leluhur Bhagiratha tidak dapat beristirahat dengan tenang semenjak mereka tewas dengan mengenaskan karena terbakar oleh sorot mata Resi Kapila yang sedang marah. Saat meninggal, abu mereka tidak mendapatkan upacara kematian yang layak sehingga tidak dapat mencapai surga.
Saat Bhagiratha dilantik menjadi raja, Dilipa membeberkan masalah tersebut kepadanya. Dilipa mengatakan bahwa abu para leluhurnya harus disucikan dengan air Gangga. Setelah Bhagiratha tahu, ia bersumpah akan membawa air Gangga turun ke bumi. Akhirnya ia memutuskan untuk menurunkan air Gangga dari surga dengan cara melakukan penebusan dosa. Ia menitipkan kerajaan kepada para menterinya.
Relief yang berjudul "Penebusan dosa Bhagiratha", terdapat di Mahabalipuram.Untuk memohon agar sungai Gangga turun ke bumi, Bhagiratha melakukan tapa dengan teguh. Ia menengadah ke langit dan makan hanya sebulan sekali. Dewa Brahma berkenan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Bhagiratha dan mempersilakannya mengajukan permohonan. Akhirnya Bhagiratha memohon agar sungai Gangga turun dari surga. Brahma mengabulkan permohonan tersebut namun arus Gangga yang turun ke bumi sangat deras sehingga ada yang harus menahannya. Brahma kemudian menyuruh Bhagiratha agar melanjutkan tapanya dengan memuja Siwa.
Bhagiratha memuja Siwa dan memintanya agar bersedia menahan arus Gangga yang turun ke bumi. Karena berkenan dengan pengorbanan Bhagiratha, Siwa mengabulkan permohonan tersebut. Brahma menyuruh Gangga agar turun ke bumi. Dengan hati yang congkak, Gangga hendak menghanyutkan Siwa serta menyapu bumi dengan arus derasnya. Siwa tahu akan maksud Gangga tersebut, lalu ia membuka ikat rambutnya sehingga rambutnya yang panjang kusut tersebut terjulur bagaikan jaring yang sangat lebar, dan menjebak Gangga yang turun ke bumi. Dengan rambutnya, Siwa menampung air Gangga.
Setelah menjebak Gangga dengan rambutnya, Siwa melakukan meditasi yang sangat dalam. Hal itu membuat Bhagiratha tidak berani mengganggunya. Untuk mengeluarkan Gangga tanpa menimbulkan kemurkaan Siwa, Bhagiratha memohon kepada Parwati, istri Siwa, supaya diberi jalan keluar. Parwati memanggil kedua puteranya, yaitu Ganesa dan Kartikeya. Atas saran Ganesa, Bhagiratha meminta bantuan Resi Gotama sebab hanya dia yang dapat membuat Siwa terkesan. Ganesa, Bhagiratha dan Kartikeya menuju asrama Resi Gotama dengan menyamar sebagai kaum brahmana. Dengan kekuatan pikirannya, Ganesa membuat sapi di asrama tersebut menjadi gila. Mengetahui hal tersebut, sang resi memukul sapi tersebut hingga mati.
Setelah Resi Gotama membunuh seekor sapi, suasana asrama menjadi gempar sebab sang resi melakukan sebuah dosa besar. Ganesa menyarankan agar sang resi menyucikan dirinya dengan air Gangga yang terdapat di dalam rambut Siwa. Sang resi mematuhi saran tersebut, lalu ia memuja Siwa dan memberinya persembahan sehingga Siwa terkesan. Atas permintaan Resi Gotama, Siwa mengizinkan Gangga keluar dari rambutnya dengan memberikan suatu celah kecil. Air tersebut menyucikan sang resi.
Setelah air Gangga menyucikan Resi Gotama, Ganesa meminta ma'af kepada sang resi karena ia telah membuat sang resi melakukan kesalahan. Resi Gotama tersentuh dengan kejujuran Ganesa. Ia juga memberkati Bhagiratha setelah tahu bahwa raja tersebut telah membuat Gangga turun ke bumi. Artikel diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Bhagiratha
|
|
|---|
